IMM Surakarta

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Cyber Magazine Pandji Ikatan Edisi III Feb/2010
Pandji Ikatan Edisi 3
Editorial PDF Print E-mail
Pandji Ikatan - Pandji Ikatan Edisi 3
Written by Administrator   
Friday, 05 February 2010 15:46

”Harga mahal reformasi 1998 masih jauh dari ’terbayar’ : kroni politik Orde Baru yang menyuburkan korupsi, kolusi, dan nepotisme, juga melahirkan anarkisme birokrasi masih meninggalkan bekasnya hingga kini. Dari kaca mata hukum positif,  Arus demokratisasi pada satu dasawarsa terakhir ini telah bergerak pada tahap melacak extra judicial crime pada berbagai level birokrasi, yaitu lahirnya lembaga yang dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan masyarakat atas kinerja para penegak hukum. Oleh karena masyarakat tidak mempercayai integritas moral para penegak hukum karena aparat telah menyalahgunakan wewenang dan memberi perlindungan terhadap praktek-praktek kejahatan, dan pada tahap yang lebih akut masyarakat melakukan upaya penegakan hukum menurut pandangan dan cara-cara mereka sendiri.

Kondisi demikian dilatarbelakangi pula oleh Anarkisme birokrasi, di mana para penyelenggra negara diberbagai tingkatan dengan skala yang besar kurang terbuka dan komunikatif dengan ruang publik. Sehingga banyak kepentingan masyarakat yang terbengkalai dalam hal pemenuhan hak-hak dasar masyarakat.

Dalam problematika ini pemerintah telah mengambil langkah dengan pembentukan lembaga Ombudsment, KPK, dan Tim SatGas Pemberantasan Mafia Hukum. Dalam taraf ini pemerintah telah memenuhi porsinya, namun harus kita akui hal demikian hanyalah alat politik bersifat temporer. Karena dalam kaitannya dengan usaha pemerintah memenuhi unsur arbiter yang kini hampir hilang pada lembaga peradilan diberbagai tingkat, yaitu menjadi penengah antara harapan masyarakat terhadap kepastian hukum dan realitas karut-marutnya politik hukum Indonesia dewasa ini.

Jika masyarakat dan para pejabat negara konsisten dalam menuntaskan agenda reformasi, maka optimisme untuk membangun kembali kekuasaan kehakiman yang bebas dan bermartabat harus dijadikan salah satu agenda utama bangsa ini. Agar tercipta kepastian hukum bagi realitas dinamika masyarakat. Amin.

 

Last Updated on Tuesday, 09 February 2010 02:24
 
Politik, Kekuasaan, dan Kedaulatan Hukum PDF Print E-mail
Pandji Ikatan - Pandji Ikatan Edisi 3
Saturday, 06 February 2010 03:44

oleh Tim Cendekia

”Kepastian Hukum adalah kondisi di mana hukum tersedia untuk mewadahi realitas dinamika masyarakat, yaitu tatanan hukum tersedia dalam segala kondisi yang terbentuk dari interaksi sosial. Bilakah politik dan kekuasaan mengambil alih kedaulatan hukum?  Di mana lokus dari kedaulatan itu? Dan mampukah ia menciptakan tatanan hukum baru?”


Dalam sistem hukum Indonesia yang menganut tradisi eropa continental (civil law), peraturan perundang-undangan tersusun secara sistematis dalam kodifikasi. Jadi kepastian hukum dapat terwujud bila segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup diatur dengan peraturan tertulis. Dan hakim tidak bebas menciptakan hukum baru, karena hakim hanya menerapkan dan menafsirkan peraturan dengan wewenang yang ada padanya. Sehingga keputusan hakim dalam hal ini tidak dapat mengikat secara umum, tapi hanya mengikat bagi pihak yang berperkara saja. Berbeda dengan sistem hukum anglo saxon (common law) yang mewujudkan kepastian hukumnya dengan putusan-putusan hakim (yurisprudensi) melalui sistem precedent, di mana hakim terikat dengan putusan hakim terdahulu menyangkut satu perkara yang identik . Dalam hal –dalam sistem anglo saxon- ini putusan hakim berperan besar dalam menciptakan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah hukum dan berlaku umum.
Last Updated on Monday, 28 June 2010 04:59
Read more...
 
Budaya Politik Budak PDF Print E-mail
Pandji Ikatan - Pandji Ikatan Edisi 3
Saturday, 06 February 2010 04:11

Oleh : Maulana Yusuf

Ketua Bidang Hikmah IMM Komisariat FKIP UMS

“Jika kita bayangkan kapitalisme sebagai satu gedung dan negeri-negeri di dunia adalah tiang-tiang yang mendukung gedung itu, maka Indonesia merupakan salah satu dari tiang-tiang itu.”.( Tan Malaka, dalam Naar De’ Repobliek Indonesia)

 

Sekilas terlintas di benak kita, bila melihat kondisi indonesia yang belum merdeka sepenuhnya. hal ini bisa kita lihat dengan besarnya utang negara dan kondisi sosial politik dewasa ini. Sejak awal berdirinya negri ini kita belum mampu terlepas dari jeratan kolonialisme. Keruntuhan moral dari bangsa ini menjadi bumbu penyedap kehancuran sistemik. kasus-kasus korupsi belum sepenuhnya selesai dengan tuntas, BLBI dan sekarang Century.

Last Updated on Saturday, 06 February 2010 04:44
Read more...
 
Islamisasi Vs Globalisasi PDF Print E-mail
Pandji Ikatan - Pandji Ikatan Edisi 3
Written by Administrator   
Monday, 08 February 2010 15:31
ISLAMISASI VS GLOBALISASI

( Dakwah Kultural Dalam Konteks Budaya Global )

Oleh : Etik Isna Kurnianingsih
Sekretaris Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah (KM3)
Koordinator Komisariat IMM UMS
 

Sekarang ini berbagai kemajuan teknologi telah ”menjamur” di lapisan masyarakat. Apalagi bagi masyarakat di pedesaan sangat merasakan adanya globalisasi. Globalisasi memang membawa pengaruh yang amat besar bagi manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Proses globalisasipun menyatakan  dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih yang telah menimbulkan berbagai bentuk perubahan peradaban manusia, yang terbukti banyak para pendakwah yang berdakwah melalui media visual, audio, ataupun dari keduanya (audio-visual) dan tidak kalahnya ”HP” pun bisa digunakan untuk berdakwah. Jadi memang saat arus globalisasi tidak menghambat bagi kita ”cendekiawan” muslim untuk berdakwah.

Last Updated on Monday, 08 February 2010 15:37
Read more...
 
Perempuan dan Kecantikan PDF Print E-mail
Pandji Ikatan - Pandji Ikatan Edisi 3
Written by Administrator   
Monday, 08 February 2010 15:39

PEREMPUAN DAN KECANTIKAN

oleh : IMMawati Yuliana

Ketua Bidang IMMawati IMM Cabang Kota Surakarta

 

Berbicara perempuan sekarang tak akan bisa lepas dari dunia kecantikan. Banyak orang yang menyatakan bahwa cantik itu merupakan dambaan setiap orang khususnya bagi kaum perempuan. Karena dengan cantik diharapkan mudah dalam mencari kerja, mudah mendapatkan jodoh, banyak orang yang menyukai, menyanjung dll.

Hal itu menjadi sesuatu yang salah kaprah ketika cantik itu hanya dimaknai bahwa hanya sebatas fisik luarnya saja. Diperparah lagi dengan salah satu iklan di TV yang menyatakan bahwa, “putih itu cantik”. Dimana masyarakat khususnya perempuan seakan-akan dituntut untuk memperputih wajahnya agar kelihatan cantik.

Pemahaman seperti itu diperkuat dengan buku yang dibuat oleh Naomi Wolf yang berjudul ”Mitos Kecantikan”, dimana dalam istilahnya PBQ (Professional, Beauty, Quallification). Yaitu perempuan dalam zaman sekarang dituntut untuk professional, cantik secara fisik, dan memenuhi syarat.

 

Read more...
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 2