|
Cabang -
Profil
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 03 November 2011 01:26 |
|
Oleh: IMMawan Muhammad Syukril Amin (Ketua Umum IMM Surakarta) Pendahuluan Kemandirian dan partisipasi masyarakat dalam tataran mahasiswa untuk mewujudkan dinamisator dalam pola demokrasi adalah suatu bentuk ekpresi kewarganegaraan yang mengidentivikasikan suatu negara sedang mempratikkan demokrasi. Demikian pula partisipasi masyarakat dalam membangun pola dinamisasi kultur kemandirian ekonomi, politik dan sosial budaya merupakan jalan lain untuk mewujudkan masyarakat baru dengan dalih proses kemandirian karaker masyarakat bawah. Hal tersebut mengisaratkan bahwa kepemimpinan nasional terbentuk dari kepemimpinan entitas kecil sebagaimana wujud sub kultur yang terintegrasi untuk mengantikan kepemimpinan berikutnya. Kedua poin diatas merupakan cita-cita besar seorang pemuda dengan komponen masyarakat, bersama-sama memanifestasikan dirinya untuk membangun tradisi perpolitikan, perekonomian, dan sosial yang bergerak secara revolusioner, untuk mengarahkan menjadi diskontinuitas sejarah bangsa. Jika kita memperhatikan pemikiran dan gerakan mahasiswa yang selanjutnya memberikan pengartian tentang siasat gerakan kota tentu dalam berbagai perspektif. Hal ini menandai bahwa gerakan mahasiswa mempunyai titik tekan untuk menjadikan dirinya sebagai pelopor diantara generasi lainnya. Sepertihalnya siasat budaya, beberapa pemikiran muncul sebagai bahan tawaran, anatara lain tentang pendidikan yang membebaskan, pengembangan masyarakat, modal sosial, hingga siasat media. Pada bagian siasat ekonomi dan politik, dapat dijumpai gagasan tentang penegakan syariat islam yang akhir-akhir ini banyak mengemuka, juga di singgung tentang siasat ekonomi islam dalam kaitannya dengan perlawanan kapitalisme global dan pemberdayaan ekonomi rakyat 1. Yang selanjutnya kedua hal itu merupakan konsep membangun masyarakat baru dan tentunya dapat terwujud ketika di giring untuk mengarungi sebuah spectrum siasat bersifat praksis. Siasat yang seperti di sebutkan diatas merupakan kecakapan-kecakapan yang setidaknya diperlukan dalam melakukan perubahan melalui gerakan kota yang melalui kecakapan advokasi, manajemen konflik, dan pengorganisasian hingga sampai pada sebuah revolusi. |
|
Last Updated on Thursday, 03 November 2011 01:40 |
|
Read more...
|
|
|
Cabang -
Profil
|
|
Written by Administrator
|
|
Sunday, 18 September 2011 22:39 |
|
Perkembangan kehidupan pengkaderan Muhammadiyah yang bersifat ilmiah, teknologis dan fungsional menempatkan kebenaran rasional, ilmiah sebagai wujud kebenaran kehidupan. Hal seperti ini tentunya menarik perhatian para kader Muhammadiyah di tingkatan mahasiswa, lebih jelasnya organisasi otonom Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk membentuk tranformasi dan dinamisasi dalam system pengkaderan Ikatan yang di gelutinya. Sebagaimana wujud pengembangan pemikiran, persiapan identitas kader untuk menopang regulasi kepemimpinan intelektual Muhammadiyah. Sikap pengkaderan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah terhadap kebenaran dalam kader ilmiah di atas, merupakan desakan ruang-lingkup kehidupan manusia dalam batasan dan rasional. Perlu kita sadari bahwa dimensi kehidupan tidak seluruhnya ilmiah dan rasional akan tetapi ilmiah dan rasional merupakan suatu wujud peradaban yang sangat panjang untuk mewujudkan keselarasan diantara transedensi manusia terhadap Allah, dan proses aktualisasi manusia yang humanis tentunya. Memperhatikan kecenderungan diatas ternyata merupakan kearifan budaya kader muda mahasiswa Muhammadiyah. Yakni sebagai wujud kearifan kader Muhammadiyah dalam membangun sekaligus fondasi moral sikapnya dalam membangun dakwah sekaligus menjembatani proses pengenalan jati diri kader ikatan, yang kita sering sebut dengan proses “individuasi kader” yang sebenarnya hanya di tujukan untuk mewujudkan tradisi ilmiah dalam pemikirannya. Proses demikianlah menjadikan kader yang serba lain dan pengkaderanpun sampai kepada dimensi agama. Pertemuan ini kemudian di sebarluaskan dan di konseptualisasikan kedalam apa yang kita kenal dalam dunia islam dengan istilah dakwah. |
|
Last Updated on Sunday, 18 September 2011 23:05 |
|
Read more...
|
|
Cabang -
Profil
|
|
Written by Administrator
|
|
Saturday, 06 August 2011 15:10 |
|
Memasuki bulan ramadhan pada tahun ini, segenap masyarakat pada khususnya umat Islam, senantiasa bergembira menyambut bulan yang penuh berkah ini. Dimana bulan ramadhan sebagai bulan yang mempunyai dedikasi penuh rahmah pada awalnya, dalam pertengahannya merupakan ma’firah dan akhir bulan Ramadhan merupakan momen terlepas dari api neraka, maka secara tidak langsung akan memberikan motivasi yang sangat berarti bagi umat Islam untuk lebih giat dalam beribadah untuk mencapai ridha Allah SWT. Selanjutnya dalam kesempatan ramadhan Allah telah memberikan malam yang sangat mulia di sepuluh akhir Ramadhan, malam itu dikenal dengan malam kemuliaan atau “Lailat al-Qadr” (malam yang lebih baik dari seribu bulan). Secara tidak langsung malam kemuliaan atau Lailat al-Qadr itu termasuk dari nilai yang terkadung dalam bulan Ramadhan itu sendiri. Setidaknya segenap umat islam tanpa terkecuali baik pengusaha, pedagang, petanipun merasakan akan hadirnya bulan yang penuh dengan berkah ini. Pada kesempatan ramadhan kali ini sepertihalnya rutinitas pada kesempatan ramadahan sebelumnya, yang seharusnya terdapat kondisi untuk melaksanakan rutinitas menumbuhkan tingkat keimanan ternyata tidak disertai dengan keadaaan yang kondusif. Keadaan yang tidak kondusif dimaksudkan, ketika melaksanakan peribadatan yang khusuk oleh umat islam ternyata terganggu oleh gejolak harga pangan. Khususnya gejolak harga bahan kebutuhan pokok. Bahkan ada barang komoditas tertentu yang kenaikannya sangat membebani masyarakat pada bulan ramadhan ini. Menurut diskripsi atas kenaikkan harga di lapangan tentunya menjadi permasalahan klasik yang pernah kita alami. Akan tetapi yang menjadi inti permasalahan adalah ketika hal tersebut selalu terulang setiap tahunnya, maka kita perlu mempertanyakan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dalam proses manajemen kebijakan. Salah satu contohnya kebijakan yang di keluarkan terhadap gejolak harga pangan. Apakah sudah tepat ataukah sebaliknya pada kesemapatan ramadhan kali ini. Masyarakat tentu memahami permasalahan yang ada, akan tetapi jika peran pemerintah tidak memberi solusi yang tepat akibatnya lonjakan harga tersebut dan karena pengaruh mismanajemen pemerintah. Artinya kebijakan pemerintah yang kita rasakan belum mampu menjawab permasalahan yang ada. Terutama lonjakan harga pangan. |
|
Last Updated on Saturday, 06 August 2011 15:13 |
|
Read more...
|
|
|
Cabang -
Profil
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 12 April 2011 14:53 |
|
Mencatat sejarah yang berkembang dalam sosial masyarakat tidak pernah lepas dari konflik agama. Sedemikian rupa permasalahan yang ada sekaligus penyebab konflik yang terbangun. Permasalahan yang mendasar tidak jauh dari permasalahan perbedaan pandangan agama, baik intra-agama maupun antar-agama. Dalam hal ini, sempat kita rasakan permasalahan yang timbul akibat permasalahan agama yakni mulai dari aksi kekerasan di Pandeglang, Banten dan Temanggung, Jawa Tengah. Selain itu munculnya kerusuhan sosial yang pernah kita alami sepertihalnya, kasus-kasus Nipah, Jengawah, Situbondo, Tasikmalaya yang semuanya diduga melibatkan peran agama. Sedemikian rupa wacana yang terbangun, sampai halnya ihwal yang selama ini mendasari kerusuhan tidak dipicu secara langsung oleh perbedaan agama. Tetapi, ketika kita mengamati perilaku para perusuh yang tidak segan-segan merusak tempat ibadah seperti masjid, gereja, pura, sentiment agama tidak dapat di pandang dengan sebelah mata sebagai instrument penting yang memicu dari kerusuhan sosial. Cara pandang sosiologis tersebut, ternyata menempatkan agama sebagai salah satu variabel pembentuk konflik jika dihadapkan dengan cara pandang teologis terkesan anakronistik. Sebab, semua agama yang dibawa oleh para utusan tuhan kemuka bumi ini pada hakikatnya berada dalam misi universal yang sama. |
|
Last Updated on Wednesday, 13 April 2011 10:08 |
|
Read more...
|
|
Cabang -
Profil
|
|
Written by PANLIH Surakarta
|
|
Monday, 28 June 2010 04:35 |
|
Musyawarah Mufakat Untuk Ketua Umum oleh Panlih IMM Kota Surakarta 2010 A. Muqoddimah Rentang panjang perjalanan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) selama ini berada di tengah lika-liku kehidupan kebangsaan dan keummatan yang mengalami proses deviasi-deviasi dari arus utamanya, untuk membangun kehidupan kebangsaan yang damai, adil, dan sejahtera. Eksistensi IMM pun, mengalami dinamika yang hampir serupa. Tentu tidak bisa dinafikkan, bahwa perjalanan IMM telah memberikan warna bagi entitas-entitas yang lain. Paling tidak IMM telah memberikan warna bagi dirinya, sehingga menampilkan sosok yang selama ini tampil, entah itu sosok yang telah memberikan warna dinamis-progresif dalam melakukan perubahan cara pandang (word-view), perilaku, ideologi gerakan dan lain-lain, yang telah memberikan artikulasi-reflektif-transformatif bagi pengembangan IMM. Ada juga warna IMM lain yang lebih sering menampilkan dirinya dalam wujud organisasi “kanak-kanak”, ia lebih sering menampilkan kehidupan organisasi yang tidak sehat, penuh dengan konflik, walaupun tidak jelas apa yang dipersoalkan bahkan diperjuangkan. Oleh karena itu, yang muncul kemudian adalah sikap-sikap arogansi dan tidak mencerminkan sebagai kader IMM. |
|
Last Updated on Monday, 28 June 2010 13:08 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
Page 1 of 2 |