IMM Surakarta

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Pimpinan Cabang Program Kerja Disintegrasi Sosial Antar Umat Beragama
Disintegrasi Sosial Antar Umat Beragama PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Cabang - Profil
Written by Administrator   
Tuesday, 12 April 2011 14:53
Addthis

Mencatat sejarah yang berkembang dalam sosial masyarakat tidak pernah lepas dari konflik agama. Sedemikian rupa permasalahan yang ada sekaligus penyebab konflik yang terbangun. Permasalahan yang mendasar tidak jauh dari permasalahan perbedaan pandangan agama, baik intra-agama maupun antar-agama. Dalam hal ini, sempat kita rasakan permasalahan yang  timbul akibat permasalahan agama yakni mulai dari aksi kekerasan di Pandeglang, Banten dan Temanggung, Jawa Tengah. Selain itu munculnya kerusuhan sosial yang pernah kita alami sepertihalnya, kasus-kasus Nipah, Jengawah, Situbondo, Tasikmalaya yang semuanya diduga melibatkan peran agama.

Sedemikian rupa wacana yang terbangun, sampai halnya ihwal yang selama ini mendasari kerusuhan tidak dipicu secara langsung oleh perbedaan agama. Tetapi, ketika kita mengamati perilaku para perusuh yang tidak segan-segan merusak tempat ibadah seperti masjid, gereja, pura, sentiment agama tidak dapat di pandang dengan sebelah mata sebagai instrument penting  yang memicu dari kerusuhan sosial. Cara pandang sosiologis tersebut, ternyata menempatkan agama sebagai salah satu variabel pembentuk konflik jika dihadapkan dengan cara pandang teologis terkesan anakronistik. Sebab, semua agama yang dibawa oleh para utusan tuhan kemuka bumi ini pada hakikatnya berada dalam misi universal yang sama. 

Kerukunan antar umat beragama kembali kita pertanyakan. Ketika konflik sosiologis yang terbangun akibat salah menafsirkan kebenaran wahyu. Akibatnya fanatisme terhadap agama menggerus toleransi di setiap pemeluk dan sesuai kepercayaan masing-masing agama. Pada akhirnya menggerus apa yang kita namakan dengan agama itu sendiri.

Dalam teori fungsionalis, Parsons mengatakan, “agama-agama akan mempengaruhi sikap-sikap praktis manusia terhadap berbagai kehidupan sehari-hari, dan pada gilirannya konsepsi agama akan mempengaruhi perumusan tujuan, hukum-hukum yang mengatur sarana, dan struktur nilai yang mempengaruhi pilihan dan pengambilan keputusan”.

Kutipan diatas sekaligus menaruh fungsi agama yakni: Pertama, agama menyediakan dukungan moral terutama ketika manusia tidak menemukan, bahkan ketidak pastian atau keadaan delematis sekaligus proses rekonsiliasi ketika merasa terasing.

Kedua, agama menawarkan terjadinya hubungan transedental, dengan dalih melaksanakan kuwajiban beribadah sekaligus ritus-ritus ibadah. Sekaligus agama menampung emosi-emosi, bahkan menawarkan stabilitas, ketertiban, dan pemeliharaan status quo.

Ketiga, agama menyucikan norma-norma dan nilai masyarakat yang telah terbentuk, menempatkan kepentingan umum diatas kepentingan individu.

Keempat, agama menawarkan nilai-nilai terpatok dan teruji. Karena itu agama tidak mudah tergoyahkan sekalipun toleransi ada tetapi dalam hal aqidah tidak bisa di campur adukkan oleh hal tersebut.

Kelima, agama memberikan identitas yang subtansional. Terakhir yakni keenam, agama mampu membuat individu terlibat dalam proses belajar yang terus menerus. Sepertihalnya dalam islam menyebutkan berikhsan, yang mana setiap individu berproses menemukan dinamisnya keyakinan untuk kerangka imannya.

Jelas fungsi agama dalam hal ini bertujuan untuk memasukkan agama dalam bingkai integritas. Sebaliknya agama manapun tidak menyisipkan untuk mengarahkan agama dalam kumbangan disintegrasi sosial. Sepakat dari pendapat Dr. Taufik Abdullah ( 1997), kerusuhan timbul karena erat berkaitan dengan struktur dan dinamika masyarakat, sikap penguasa terhadap keberagaman masyarakat dengan berbagai kebutuhan dan harapan, dan alokasi sumber-sumber dalam dimensi pluralitas masyarakat.

Membicarakan agama untuk integritas tentunya menguntungkan masa depan agama. Sepertihalnya pernyataan yang pernah tercermin oleh Dr. Soejatmoko, seorang humanis-religius. Pernah melontarkan bahwa abad 21 merupakan abad agama. Namun banyak juga yang  pesimistik, karena sampai saat ini agama masih dihadapkan dengan banyak persoalan, salah satunya permasalahan klaim kemutlakan.

Gambaran diatas merupakan tantangan terbentuknya disintegrasi sosial antar umat beragama. Dalam hal ini tentu  terkurangi ketika: Pertama, setiap pribadi pemeluk agama mempunyai suatu visi bersama yakni menjaga kerukunan dan toleransi antar umat beragama tanpa mencampur landasan beragama.

Kedua, dalam konteks yang ada pengoptimalan dialog antar umat beragama membuahkan hasil optimal ketika pelaku mampu menanggalkan pandangan ekslusivisnya untuk mewujudkan harmonisasi dengan mitra dialog.

Ketiga, kerukunan beragama  akan menggeser disintegrasi sosial untuk menuju integritas sosial ketika disertai dengan kesadaraan sepritual yang hakiki. Keempat sekaligus yang terakhir, sudah saatnya kita memperbaiki perikehidupan berbangsa tanpa menanggalkan subyektif minoritas dan mayoritas dengan tujuan perikehidupan berbangsa secara bertanggung jawab. Demikian kiranya ketika individu mulai mempunyai kerangka yang kesadaran, tentu kebersamaan akan membangun pondasi besar untuk kemajuan bangsa ini.

Addthis
Last Updated on Wednesday, 13 April 2011 10:08